1. BENGKUANG ( Pachyrrhizus erosus )
Jenis
ini ditanam terutama untuk umbinya yang dapat dimakan mentah,
sedangkan untuk asinan atau rujak dapat dimakan setelah dimasak.
Perbanyakan dilakukan melalui stek batang, umbi maupun bijinya yang
biasanya ditanam di atas bedengan-bedengan di tanah sawah. Biji
bengkuang memerlukan 1-3 minggu untuk berkecambah, setelah umur 1 bulan
tanaman memerlukan tonggak panjang sebagai penunjang untuk merambat,
agar diperoleh umbi yang besar pembungaannya perlu dibuang. Umbi
bengkuang umumnya dipanen setelah tanaman berumur 6-11 bulan.
2. UBI MANIS ( Dioscorea alata )
Pada
musim kemarau umbinya mengalami masa istirahat, agar tidak busuk
biasanya umbinya disimpan di tempat yang kering, diatas peraian di dapur
atau juga dibungkus dengan abu, menjelang musim hujan umbi ini akan
bertunas. Umbi yang telah bertunas digunakan sebagai bibit, setelah
berumur 9-12 bulan umbinya dapat dipanen. Tanaman ini tumbuh di tanah
datar hingga ketinggian 800 m dpl.
3. KIMPUL ( Xanthosoma violaceum )
Dari
tanaman budidaya ini banyak anaknya yang terbuang tidak dipelihara dan
tumbuh liar. Kimpul ini dikenal sedikitnya 2 forma, yaitu yang tangkai
dan urat daunnya bewarna biru tua sampai hitam dan yang tangkai dan urat
daunnya bewarna hijau. Kimpul ini cara penanamannya menyerupai talas.
Umbi biobniot digunakan anak yang tumbuh di samping induknya, tetapi
walaupun begitu cara memanennya sangat berbeda dengan talas. Kimpul
dipanen tanpa membongkar pohonnya, caranya ialah dengan menggali di
sekeliling tanaman dan melepaskan umbi anak dari induknya, kemudian
tanaman ditimbun lagi untuk dipanen kembali setelah 3-4 bulan.
4. UBI BUAH ( Dioscorea bulbifera L. )
Selain
dimakan umbinya dan umbi gantungnya dapat digunakan sebagai obat.
Perbanyakan ubi buah dapat dilakukan baik dengan umbi maupun dengan umbi
gantungnya. Umbi yang telah bertunas dapat digunakan sebagai bibit.
Umbi dapat dipanen setelah berumur 1 tahun.
5. UBI JALAR ( Ipomoea batatas L. )
Perbanyakan
tanaman biasanya dilakukan dengan stek, batang mudanya ditanam pada
gulu dan yang cukup tinggi. Setelah berumur 2-3 minggu batangnya
dinaikkan ke puncak.
6. UBI KAYU ( Manihot esculenta )
Ubi
kayu masak yang diragikan dikenal dengan nama tapai ubi, yang mentah
merupakan bahan mentah untuk tepung tapioka. Daunnya banyak mengandung
banyak protein, perbanyakan tanaman biasanya dilakukan dengan stek,
batangnya yang sudah berkayu. Sebagai bibit dipergunakan sebagai batang
yang matanya belum tumbuh, caranya dicondongkan, direbahkan dan ada yang
tegak lurus. Selain itu dapat pula dilakukan dengan sistem mukibat yang
dilakukan dengan cara penyambungan atau penempelan tunas ubi kayu karet
pada batang poko
7. UBI GADUNG ( Dioscorea hispida )
Tumbuh
pada tanah datar hingga ketinggian 850 m dpl. Tetapi dapat juga
ditemukan pada ketinggian 1.200 m dpl. Umbinya sangat beracun, karena
mengandung alkoloid yang menimbulkan rasa pusing-pusing. Dengan cara
pengolahan khusus umbinya dapat dimakan. Umbi mentahnya karena
mengandung alkoloid dapat digunakan sebagai bahan untuk racun binatang.
Bahan sisa pengolahan tepungnya dapat digunakan sebagai insektisida.
Bunga tanaman ini yang berwarna kuning sangat harum digunakan untuk
mewangikan pakaian dan dapat pula dipakai sebagai hiasan rambut
8. TALAS BOGOR ( Colocasia esculenta (L.) Schott )
Di
Indonesia talas ini bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan
tersebar dari tepi pantai sampai ke pegunungan diatas 1.000 m dpl., baik
liar maupun ditanam. Bogor dan Malang terkenal sebagai penghasil
beberapa kultivar yang enak rasanya
Untuk
pertumbuhanya diperlukan tanah yang kaya akan humus dan berdrainase
baik. Kultivar yang terkenal enak rasanya di Jawa di tanam pada tanah
kering. Masa tanam yang tepat ialah sebelum musim hujan. Talas
berkembang biak dengan anakan, sulur, umbi anak atau pangkal umbi serta
sebagian pelepah daunnya. Anakan-anakanya perlu dibuang agar umbi induk
bisa tumbuh menjadi besar. Tanaman dipanen setelah berumur 6 – 9 bulan.
9. SUWEG ( Amorphophallus campanulatus Bl. )
Tangkai
bunganya, yang tingginya 50 – 120 cm, berwarna hijau dengan noda-noda
pucat. Tongkolnya berbau tidak enak, terdiri atas 3 bagian, yaitu bagian
bawah bunga betina, bagian tengah bunga jantan dan bagian atas ialah
bagian bunga yang mandul. Dikenal adanya 2 varitas, ialah A.
Campanulatus var. Hortensis yang sudah dibudidayakan dan var. Sylvestris
yang tumbuh liar di hutan jati atau di kebun-kebun yang tidak
terpelihara. Tumbuh di dataran rendah sampai 800 m dpl. Untuk
pertumbuhanya diperlukan tempat yang agak terlindungi.
Jenis
ini diperbanyak dengan umbi anak atau mata yang terdapat pada kulit
umbinya. Setelah tumbuh biasanya tidak memerlukan pemeliharaan, hanya
tanah di sekitarnya perlu digemburkan. Jika ditanam dari umbi anak, umbi
dapat dipanen 4 – 5 bulan kemudian, setelah tangkai daunnya membusuk.
Jika matanya yang dijadikan bibit, suweg baru dapat dipanen setelah
berumur 9 – 10 bulan.
10. UBI GARUT ( Marantha arundinaceae L. )
Umbinya
berwarna putih ditutupi dengan kulit yang bersisik berwarna coklat
muda, berbentuk silinder. Jenis tanaman ubi-ubian ini tumbuh pada
ketinggian 0 – 900 m dpl, dan tumbuh baik pada ketinggian 60 – 90 m dpl.
Tanah yang lembab dan di tempat-tempat yang terlindung sangat digemari
Perbanyakan
tanaman garut dilakukan dengan memotong sebagian kecil dari rimpang
yang bertunas. Tanaman ini biasanya ditanam pada permulaan musim hujan
sesudah tanah digemburkan lebih dahulu. Selama pertumbuhan, tanah
sekali-kali perlu digemburkan. Umbi dapat dipanen pada umur 10 – 11
bulan, bila daun-daunnya mulai melayu.
11. UBI GANYONG ( Canna edulis Ker. )
Jenis
tanaman ini tumbuh pada ketinggian 0 – 2550 m dpl, dengan curah hujan
rata-rata 1120 mm. Kecuali pada tanah liat berat, ganyong dapat tumbuh
pada hampir semua tipe tanah. Produksi optimum akan dicapai bila tanaman
pada tanah liat berpasir yang kaya akan humus. Perbanyakan tanaman
dapat dilakukan dengan rimpangnya yang telah mencapai ukuran normal dan
mengandung 1-2 tunas sehat. Umbi ditanam sedalam 12,5 – 15 cm pada tanah
yang telah lebih dahulu dicangkul dan ditanam dalam barisan. Umbinya
dapat dipanen pada umur 6-10 bulan setelah tanam untuk dikukus atau
direbus. Bila akan diambil patinya dipanen pada waktu berumur 15 – 18
bulan dan harus diolah seketika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar