Rabu, 24 Agustus 2016
Minggu, 14 Agustus 2016
Senin, 25 Juli 2016
Membuat Pupuk Organik Cair Urine

Batang/bonggol pisang sebanyak 5 kg
Sabut kelapa muda sebanyak 1 kg
Buah maja sebanyak 3 buah
Molase/tetes tebu sebanyak 4 kg
Buah nanas (tua/busuk) sebanyak 4 buah
Starter/bioactivator/Ragi Kompos sebanyak 2 liter
Ragi tape secukupnya
Bekatul sebanyak 1 kg
Peralatan:
Drum plastik volume 200 liter
Kayu pengaduk
Parang tajam
Cara membuatnya:
1. Siapkan ragi kompos dan mollase campur dengan menggunakan air bersih (tidak mengandung chlorin/atau kaporit) secukupnya tambahkan bekatul dan aduk sampai homogen.
2. Cacah halus gedebog/batang/bonggol pisang dengan menggunakan parang yang tajam demikian pula dengan sabut kelapa muda.
3. Hancurkan buah maja dan buah nanas dengan cara masukkan ke kantong plastik tebal dan dipukul-pukul dengan menggunakan kayu sampai lumat.
4. Masukan urine sapi, kambing, kelinci atau sejenisnya sebanyak ¼ drum plastik, masukkan larutan ragi kompos, mollase dan bekatul sambil diaduk sampai rata, berikutnya masukkan lumatan buah maja dan nanas dengan tetap terus diaduk, masukkan cacahan gedebog pisang dan sabut kelapa muda, tambahkan urine sampai volume ½ drum aduk terus agar homogen, terakhir masukkan ragi tape yang sudah dihancurkan dan tambahkan larutan urine sampai habis (umumnya masih ada sisa ¼ volume drum yang kosong). Tambahkan sedikit air sampai volume total larutan dan padatan sekitar 175 liter.
5. Tutup rapat-rapat dengan menggunakan plastik. Setiap hari sekali dibuka kemudian diaduk selama 15 menit, tutup lagi dan biarkan. Ulangi perlakuan tersebut sampai tujuh hari. Pada minggu kedua pengadukan dilakukan setiap dua atau tiga hari sekali, kemudian ditutup dan biarkan.
Proses fermentasi akan berlangsung sekitar 2 minggu, pada setiap kegiatan pengadukan amati proses yang terjadi (kemunculan busa, warna cairan coklat kehitaman dan kental, bau/aroma menyengat yang berangsur-angsur berkurang) berarti proses berjalan dengan baik.
Cara Aplikasi:
Saring larutan POC dengan menggunakan kain kassa (kain nyamuk), sisa ampas masukkan kembali ke dalam drum.
1. Aplikasi semprot: ambil larutan POC 1 gelas (250 cc) campur dalam air 14-15 liter (1 tangki handsprayer), semprot merata pada tanaman pangan, palawija dan sejenisnya sebaiknya pagi hari sebelum pk. 11.00 optimum ulangi setiap 7-10 hari sekali.
2. Aplikasi kocor/siram: ambil larutan POC 1 gelas (250 cc) campur dalam air 10 liter (1 ember), kocor pada tiap lubang tanam sebanyak 150-200 cc sebaiknya pagi hari sebelum pk. 11.00 optimum, ulangi setiap 10 hari sekali.
3. Aplikasi semprot dapat digabungkan dengan pupuk organik cair ber”merek” sehingga lebih berhemat, maupun pestisida.
4. Aplikasi kocor dapat digabungkan dengan pupuk organik cair ber”merek”, pupuk kompos, maupun pupuk sintetis.
Catatan:
Buah maja berfungsi untuk meningkatkan kandungan Nitrogen, sumber mikroba dan pemasok hara mikro bila tidak ada bisa diganti dengan daun sirsak, sengon ataupun daun kaliandra.Serabut kelapa berfungsi untuk meningkatkan kandungan Kalim,sedangkan gedebog pisang untuk meningkatkan unsur Phospat, Si dan mikro element lainnya.
Buah Nanas berfungsi sebagai penawar bau, sumber biakan mikroba, serta hormon dan unsur hara mikro.
Urine kaya kandungan unsur N serta biopestisida
Ragi kompos sebagai sumber konsorsium mikroba terpilih.
Ragi Tape sebagai sumber mikroba saccharomices, pengurang aroma menyengat, sekaligus membuat aroma pupuk organik cair menjadi “harum”
Penggunaan dosis kecil namun rutin akan lebih baik hasilnya dibanding dosis tinggi namun hanya sekali aplikasi.
Penghematan penggunaan pupuk sintetis adalah berkisar 25-35% dari dosis rekomendasi setempat.
Sumber: Klinik Pertanian Indonesia – LSM
Minggu, 24 Juli 2016
Minggu, 03 Juli 2016
Pembibitan Padi Sistem Dapog
Pembibitan Padi Sistem Dapog
Pendahuluan
Tahun 2014, Badan Litbang Pertanian telah menciptakan
mesin tanam padi (rice transplanter) jajar legowo 2:1 yang
dinamakan Indo Jarwo Transplanter. Mesin tersebut
mampu mempercepat waktu dan menurunkan biaya
tanam, yang hanya memerlukan waktu sekitar 6-7 jam (di
Kalimantan Tengah), atau kemampuannya setara dengan
25 tenaga kerja tanam.
Sebagai upaya mewujudkan teknis operasionalnya
diperlukan persemaian bibit padi sistem dapog.
Prinsipnya, bibit ditabur pada tempat tertentu, misal
plastik, lempengan semen, daun pisang, sehingga akar
bibit terlihat seperti tikar/ karpet dan dapat digulung.
Hasil gulungan ditempatkan pada nampan (tray) yang
merupakan bagian dari rice transplanter, untuk persiapan
penanaman di lahan.
Persiapan Media (Tanah)
1. Pilih jenis tanah lempung berpasir, lempung, liat
lempung, kemudian campur ketiganya.
2. Tanah diayak menggunakan ayakan berdiameter 4-6
mm.
3. Untuk 1 Ha lahan dibutuhkan 1.875 kg tanah, yaitu
1.500 kg sebagai tanah dasar bibit, dan 375 kg sebagai
tanah penutup
Persiapan Benih
1. Seleksi benih dengan larutan garam (1 sendok makan
garam : 1 liter air ) selama ± 10 menit. Tujuannya untuk
mendapatkan benih yang bernas (benih yang tenggelam).
Benih yang melayang di larutan garam tidak ditanam.
2. Benih bernas direndam dalam air selama 24 jam, lalu
angkat dan saring di paranet, selanjutnya siram dengan air
hangat 40oC, dan tiriskan. Tujuannya untuk mempercepat
pertumbuhan kecambah. Kebutuhan benih 20 kg/ Ha.
Persiapan Persemaian
1. Persemaian kering, yaitu persemaian dalam kotak.
• Siapkan kotak persemaian (dasar kotak : flexible atau
rigid). P=58 cm, L=18 cm, T=3 cm
• Isi dengan tanah lalu ratakan (tinggi 1,5-2,0 cm)
• Tabur benih secara merata (2-3 benih/ cm2).
Kebutuhan benih 150-200 gram/ kotak persemaian.
• Tutup dengan tanah penutup, tinggi 0,5 cm.
• Tanah disiram dengan air menggunakan shower.
2. Persemaian basah, yaitu persemaian di lahan
menggunakan (alas) plastik.
• Buat bedengan (L=160 cm) dan parit (L=20-30 cm,
T=10 cm)
• Hamparkan plastik (dilubangi D=0,2-0,3 cm jarak antar
lubang 2 cm x 2 cm)
• Pakai kayu reng untuk rangka semai (L=116 cm,
T=2,7-3,0 cm)
• Isi tanah lalu ratakan (T=1,5-2,0 cm)
• Tabur benih secara merata 2-3 benih/ cm2)
• Tutup dengan tanah penutup, tinggi 0,5 cm, menghindari
agar tidak dimakan burung dan tidak terkena matahari
secara langsung.
• Penyiraman air menggunakan shower atau air irigasi
pada alur antar bedengan.
Pemupukan
Urea 2,5 gram dilarutkan dalam air 0,5 liter diaplikasikan
untuk 1 kotak bibit, pada umur 6 hari setelah tebar atau
sudah muncul daun 1,0-1,5.
Pindah Tanam
1. Syarat bibit
• Umur 15-20 hari setelah sebar
• Jumlah daun 3,5-4,0 helai
• Tinggi 20 cm
• System perakaran saling terkait (mudah digulung) dan
warna putih; tanam langsung dengan tanah (tanpa cuci)
2. Cara pindah tanam
a. Persemaian kering : langsung gulung bibit pada dapog
b. Persemaian basah : iris persemaian sesuai ukuran tray
yaitu 18 cm x 58 cm, lalu gulung bibit tersebut.
3. Tempatkan bibit dengan benar di tray Indo Jarwo
Transplanter, tanam siap dilakukan.
Rujukan : Bahan Ajar BBP Mektan
Jumat, 01 Juli 2016
Mesin Tanam Padi ( Rice Transplanter) Yanmar - AP4
Berkah Romadhon Kelompok Tani Sedyo Rahayu ll
Minggu, 19 Juni 2016
Cara menghitung PPM jika tidak punya TDS Meter
Cara menghitung PPM jika tidak punya TDS
Meter.
Anda bisa menghitungnya dengan memakai
Ukuran standar baku dari Nutrisi AB Mix anda.
Nutrisi AB Mix yang bagus, Peracik nya akan
mencantumkan PPM Baku nya.
Contoh untuk Merk Ijo buatan Om Toni PSM,
seperti foto di bawah:
Silahkan anda perhatikan foto diatas, pada
bungkus B, di sebelah kanan.
Silahkan di klik untuk gambar lebih besar.
disana ada tulisan:
"Campuran A dan B dalam 100 Liter
bernilai kurang lebih EC = 2.0 / 1.000 ppm "
Disini berarti dengan campuran 5mL A + 5mL
B + 1 Liter , akan di dapatkan sekitar 1 Liter Air
Nutrisi bernilai EC 2.0 uS atau kalau dalam
PPM bernilai 1.000 ppm.
Jika ingin mendapatkan 500 ppm dalam 1 Liter
Air, tinggal di bagi 2 saja Larutan A dan B nya,
Yaitu 2,5mL A + 2,5mL B + 1 Liter Air , akan di
dapatkan sekitar 1 Liter Air Nutrisi bernilai 500
ppm.
Jika ingin mendapatkan 200 ppm dalam 1 Liter
Air, tinggal di bagi 2 saja Larutan A dan B nya,
Yaitu 1mL A + 1mL B + 1 Liter Air , akan di
dapatkan sekitar 1 Liter Air Nutrisi bernilai 200
ppm.
Semoga bisa paham. ^_^
Tabel untuk ukuranPPM dan PH Hidroponik
Tabel untuk ukuran PPM dan PH
Hidroponik
Kali ini saya kasih Update tentang informasi
ukuran / takaran PPM dan PH buat Tanaman
Hidroponik.
Pada saat Musim Hujan, Tanaman mem butuh
kan PPM/Ec lebih banyak, jadi silahkan di set
ke PPM/Ec tertinggi .
Sebaliknya saat Musim Panas , tanaman mem
butuh kan PPM/Ec Sedikit, karena tanaman
lebih banyak menyerap Air dan menguapkan Air
lewat Daun nya, maka PPM/Ec sebaiknya di
set terendah .
Kamis, 02 Juni 2016
Hal penting yang di butuhkan dalam ber tani secara Hidroponik
Pertumbuhan tanaman di Sistem Hidroponik itu
di pengaruhi oleh:
1. Kehendak Tuhan, Jangan lupa untuk selalu
berdoa, karena Petani itu hanya bisa berusaha
merawat dan memberikan kebutuhan hidup
tanaman, jadi hasil nya itu kehendak Tuhan,
dan kita harus tetap ber syukur jika hasil panen
nya tidak sesuai harapan atau gagal panen.
2. Karbon Dioksida (CO2) , bukan Asap
pembakaran Bahan Bakar itu Karbon
Monoksida (CO).
3. Sinar Matahari yang cukup,
- Usahakan mendapat Sinar Matahari mulai
pagi sampai sore,
- Atau setidaknya usahakan mendapatkan
sinar matahari pagi sampai siang.
4. Nutrisi Hidroponik yang bagus,
- Nutrisi Hidroponik yang banyak beredar
disebut AB Mix, meski ada juga ABC Mix, ABCD
Mix dan cuman satu Mix saja seperti merk Yara
Kristalon.
- Pemilihan Racikan Nutrisi Hidroponik yang
bagus itu penting, dengan banyaknya merk
yang beredar, maka kita harus pandai memilih
merk yang punya resep racikan dan bahan
racikan yang cocok dengan tanaman dan
kondisi lingkungan kita.
- Ada beberapa Merk Nutrisi AB Mix yang
meninggalkan Redusi/Kotoran Kerak Garam
yang lama lama bisa merusak Sistem dan
menyumbat selang selang, Lalu ada juga yang
membuat pH tidak stabil jadi harus sering cek
dan menstabilkan pH setiap pagi, siang dan
sore.
Dan ada lagi merk yang membuat tanaman
daun nya menguning, pertumbuhan kurang
bagus, dst.
- Akan lebih baik jika anda meracik dan
melakukan percobaan dengan nutrisi sendiri,
karena anda bisa menyesuaikan dengan
kondisi iklim lingkungan, air baku dan tanaman
anda.
- Anda yang masih kelas Hobi atau Kebun
kecil, bisa juga mencoba beberapa Merk dan di
coba sendiri, sekarang banyak yang beredar
dan paket ekonomis yg bisa di pilih.
Lebih baik lagi kalau mendapat saran atau
testimoni dari banyak sumber, dan lebih baik
kalau mereka dari satu daerah, alasanya setiap
daerah punya Air Baku dan Iklim yang berbeda
beda yang bisa mempengaruhi hasil dari Nutrisi
AB Mix.
5. Air Nutrisi yang bagus ,
- Air Nutrisi sebaiknya menggunakan Air Baku
yang bagus ( Soft Water), jika perlu anda
saring/filter air nya agar besih dari garam,
kapur, zat besi yg berlebihan, dst ( jangan
memakai Air payau, Air yang banyak Kapur nya,
dst )
Gunakan Air Baku ( Soft Water ) dengan Nilai
TDS antara 0 - 180 ppm, jangan memakai di
atas 180 ppm, karena ini masuk kategori Hard
Water, ini bisa membuat pH tidak stabil.
Jika Nilai PPM Tinggi, maka di dalam Air Baku
ada kemungkinan mengandung unsur unsur
yang bisa mengacaukan pH dan akhirnya akan
mengganggu pertumbuhan tanaman.
- Menjaga pH Air Nutrisi pada kisaran 5,5
sampai 6,5 ( Tabel pH untuk beberapa
tanaman )
- Menjaga Suhu air di jaga di kisaran 25
celcius, Suhu Air nutrisi yang Hangat bisa
menyebabkan panthogen hidup di Air Nutrisi
( contoh Pythium ) dan menyebabkan
berkurangnya Kadar Oksigen terlarut yang di
butuhkan akar tanaman.
6. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen) yang
banyak,
- Air Nutrisi usahakan mempunyai Kadar
Oksigen terlarut (D.O.) yang banyak, jika perlu
tambahkan Mesin Oksigen , Mesin Aerator + Air
Stone atau memakai Sistem Hidroponik yang
bisa memberikan Oksigen Terlarut yang
banyak.
- Kadar Oksigen Terlarut di pengaruhi Suhu Air,
pada Suhu Air Nutrisi 10 C jumlah D.O. ada di
kisaran 13 ppm, pada 20C ada di kisaran 9
ppm dan pada 30C hanya kisaran 7 ppm.
- Jika Suhu Air Panas, maka jangan
menggunakan Sistem NFT/DFT yang Panjang,
karena dalam perjalanan D.O. akan habis,
sehingga tanaman tidak tumbuh merata.
- Jika tanaman kekurangan Oksigen Terlarut
dalam jangka panjang, maka tanaman akan
Stress (akar akan mengeluarkan hormon
ethylene) sehingga mudah di serang Pythium
(Penyebab Busuk Akar), Daun menjadi kuning,
Tangkai daun menjadi layu, pertumbuhan
melambat karena mengganggu sehingga panen
bisa menurun atau gagal
7. Suhu Lingkungan yang ideal
- Tergantung jenis tanaman, tapi ada di kisaran
antara di 20 - 30 C,
- Suhu Lingkungan maksimal di 43 C,
tergantung jenis tanaman juga.
- Meski suhu lingkungan panas, air nutrisi
harus tetap dijaga agar dingin pada suhu di
kisaran 25 C.
8. Kualitas Benih yang bagus ,
- Jangan menyimpan benih sembarangan,
usahakan di simpan di tempat dingin, saya
sarankan di simpan dalam kulkas, tapi bukan di
freezer.
- Dan usahakan beli benih pack yang kemasan
pabrik,
- Jangan membeli/memakai benih yang sudah
kadaluwarsa,
- Beberapa merk benih punya kekurangan dan
kelebihan tersendiri, jadi jangan heran jika
menanam tanaman yang sama hasil bisa beda
dengan di kebun orang lain.
9. Perawatan yang baik, lalu Kesabaran dan
telaten ,
- Perawatan dengan Pembersihan dan
Sterilisasi Sistem Hidroponik dan Tandon itu
penting, agar tanaman bisa tumbuh dengan
sehat.
- Menanam secara Hidroponik tidak semudah
yang anda bayangkan, untuk dapat hasil yang
bagus kita harus merawatnya dengan sabar
dan telaten, kalau anda hanya kurang sabar
dan telaten, sebaiknya jangan menjadi Petani,
karena anda pasti menyerah di tengah jalan
saat menghadapi capek nya menyemai ,
memindah tanam, membersihkan sistem &
tandon, menghadapi panen jelek, menghadapi
gagal panen, dst
- Kesabaran dan Telaten itu penting, karena
Petani harus Merawat Semaian, Memindahkan
tanaman, membersihkan sistem,
membersihkan tandon, memberikan air nutrisi
jika berkurang, Memperhatikan tanaman apa
ada yang di serang penyakit & hama, dst
Jangan hanya tergiur dengan Hasil Panen yang
banyak dan Uang hasil penjualan yang banyak,
karena di Pertanian tidak se Indah dan
Semudah yang anda Bayangkan.
Sumber.(petaniteguh.)
Teknologi Persemaian Padi Sistem Kering
Teknologi persemaian padi sistem kering
adalah teknologi persemaian dalam kotak
semai plastik yang dilapisi filter berupa kertas
koran. Keuntungan menerapkan teknologi
sistem persemaian ini di antaranya; tidak perlu
melakukan pengolahan tanah dan daut
(pencabutan), hemat lahan dan air, sesuai
untuk lahan garapan yang sempit (<1000 m2),
pemeliharaan mudah dan efisien serta biaya
lebih murah dibandingkan teknologi
persemaian padi sawah secara konvensional
atau persemaian basah.
Langkah awal untuk membuat persemaian
kering adalah menyiapkan kotak semai berupa
kotak plastik berukuran 40x30x3 cm. Kotak
plastik dilubangi 4 titik pada dasar kotak
kemudian dilapisi kertas koran. Kertas koran
berfungsi sebagai filter untuk mengatur air
infiltrasi dan kelembaban dalam kotak semai.
Setelah dilapisi kertas koran pada kotak
plastik, selanjutnya masukkan tanah/media
tanam ke dalamnya. Media tanam yang
digunakan berupa tanah gembur yang kaya
unsur hara.
Setelah media tanam disiapkan, benih
disebarkan secara merata dan ditutup lagi
dengan media tanam yang sama setebal ±1cm,
kemudian disiram air sampai menetes melalui
keempat lubang tersebut. Pada umur 7 hari
setelah semai bibit padi sudah muncul (vigor).
Penyiraman dilakukan 2 hari sekali sampai
umur 7-12 hari. Pada umur 13-15 hari disiram
setiap hari pada sore hari. Bibit padi siap
ditanam di sawah pada umur 15 hari. Untuk
persemaian padi dalam jumlah besar
diperlukan rumah bibit yang dilengkapi rak-rak
yang disusun secara bertingkat.
Manfaat teknologi persemaian ini antara lain
persemaian dapat dilakukan di luar areal
produksi, hemat kebutuhan benih (±10 kg/ha),
hemat lahan dan air, mengurangi resiko
kegagalan karena banjir, serangan OPT,
pertumbuhan bibit lebih cepat, dan sapat
mengikuti percepatan musim tanam. Selain itu,
perlakuan benih dapat dilakukan pada tanah
kahat Zn, tanaman dan tidak mengalami stres.
Dengan cara ini juga tidak dibutuhkan tenaga
kerja untuk cabut, serta menguntungkan bagi
pemilikan lahan sempit. Pengalaman petani,
teknik ini dapat mempercepat tanam 10-15
hari dibandingkan dengan sistem persemaian
basah, dan kelayakan finansialnya cukup tinggi
yaitu benefit cost ratio (B/C) adalah 2,66. (
yogya.litbang.pertanian.go.id/)
Pengendalian Tikus Secara Kimiawi
Pengendalian Tikus Secara
Kimiawi
Pengendalian kimiawi merupakan pilihan
terakhir dalam pengendalian tikus.
Pengendalian ini dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat
membunuh tikus atau dapat menganggu
aktivitas tikus, baik aktivitas untuk makan,
minum, mencari pasangan maupun reproduksi.
Secara umum pengendalian dengan cara
kimiawi dibedakan menjadi empat jenis yaitu:
1. Rodentisida. Rodentisida atau
umpan racun merupakan
teknologi pengendalian tikus
yang paling banyak dikenal
dan digunakan oleh petani untuk
membunuh tikus sawah.
Rodentisida yang dipasarkan
pada umumnya dalam bentuk
siap pakai, atau mencampur
sendiri dengan bahan umpan.
Rodentisida digolongkan menjadi
racun akut dan antikoagulan.
Racun akut dapat membunuh
tikus langsung di tempat
setelah makan umpan, sehingga
dapat menyebabkan tikus jera.
Sedangkan rodentisida
antikoagulan akan menyebabkan
tikus mati setelah lima hari
memakan umpan dengan dosis
yang cukup sehingga tidak
menyebabkan jera umpan.
Keberhasilan pengumpanan
rodentisida sangat dipengaruhi
oleh waktu pengumpanan, jenis
umpan dan penempatannya.
Waktu yang tepat untuk
pengumpanan adalah ketika di
lapangan sudah tidak ada lagi
pakan padi (bera) sampai padi
vegetatif.
2. Fumigasi. Bahan fumigan yang
sering digunakan oleh petani
sampai saat ini adalah asap
belerang dan karbit. Penggunaan
emposan asap belerang
merupakan cara pengendalian
tikus yang efektif, mudah
diaplikasikan dengan biaya
murah.Teknik tersebut
merupakan teknik untuk
membunuh tikus sawah di dalam
sarang dan dapat dilakukan
kapan saja atau pada periode
bera dan saat pertanaman padi.
Namun pengemposan yang
paling efektif adalah dilakukan
pada saat padi generatif, yaitu
ketika tikus sawah sedang
beranak di dalam sarang. Teknik
tersebut dapat membunuh anak
tikus bersama induknya di dalam
sarang. Jenis fumigasi lainnya
yang dapat dipakai adalah
“tiram” dengan menggunakan
teknik asap kembang api dengan
bahan aktif belerang. Tiram
dimasukkan ke dalam sarang
tikus dan dinyalakan sumbunya,
maka asap belerang akan keluar
dan dapat membunuh tikus.
3. Repellant. Repellent adalah
bahan untuk menolak atau
membuat tikus tidak nyaman
berada di daerah yang
dikendalikan. Penggunaan
repellent di lapangan untuk
mencegah/mengusir tikus sawah
masih jarang digunakan, karena
hanya bersifat mengusir dan
tidak membunuh tikus. Beberapa
bahan alami nabati seperti akar
wangi diduga mempunyai efek
repellent terhadap tikus, namun
masih diperlukan penelitian yang
lebih intensif.
4. Antifertilitas. Pemandulan tikus,
baik tikus jantan maupun tikus
betina dapat digunakan untuk
pengendalian tikus. Cara ini
mempunyai prospek baik karena
tikus sawah mempunyai
perkembangbiakan yang cepat
dan jumlah anak yang banyak
dalam setiap kelahiran. Beberapa
jenis bahan kimia yang
digunakan untuk pemandulan
manusia juga dapat digunakan
untuk memandulkan tikus
sawah. Kesulitan dalam
penggunaan bahan
antifertilitas di lapangan pada
umumnya menyangkut dosis
umpan yang dikonsumsi tikus
sawah kurang cukup (subdosis)
sehingga tikus yang
mengkonsumsi bahan
antifertilitas tersebut tidak efektif
menjadi mandul. Ekstrak minyak
biji jarak (Richinus communis)
telah diteliti juga dapat
digunakan sebagai rodentisida
dan antifertilitas nabati.
(litbang.pertanian.go.id)
Kamis, 12 Mei 2016
Aplikasi Pupuk Hayati dan Biodekomposer Pada Teknologi Tanam Jarwo Super
Aplikasi Pupuk hayati dan
Biodekomposer Pada
Teknologi Tanam Jajar
Legowo Super
Aplikasi Pupuk Hayati
Pupuk hayati adalah pupuk berbasis
mikroba non-patogenik yang dapat
menghasilkan fitohormon (zat pemacu
tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan
pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan
kesuburan dan kesehatan tanah.
Pupuk hayati Agrimeth memiliki aktivitas
enzimatik dan fitohormon yang berpengaruh
positif terhadap pengambilan hara makro
dan mikro tanah, memacu pertumbuhan,
pembungaan, pemasakan biji, pematahan
dormansi, meningkatkan vigor dan viabilitas
benih, efisiensi penggunaan pupuk NPK
anorganik dan produktivitas tanaman.
Aplikasi pupuk hayati Agrimeth dilakukan
pada pagi hari (sebelum jam 08.00 pagi)
atau sore hari (pukul 15.00-17.00) dan
tidak terjadi hujan. Pupuk hayati hanya
diaplikasikan sekali, yakni pada saat benih
akan disemai dengan cara perlakuan benih
( seed treatment ).
Benih yang telah tercampur pupuk hayati
segera disemai, upayakan tidak ditunda
lebih dari 3 jam, dan tidak terkena paparan
sinar matahari agar tidak mematikan
mikroba yang telah melekat pada benih.
Sisa pupuk hayati disebarkan di lahan
persemaian.
Aplikasi pupuk hayati Agrimeth pada benih
padi
Aplikasi Biodekomposer
Biodekomposer adalah komponen teknologi
perombak bahan organik, diaplikasikan 4
kg/ha dicampur secara merata dengan 400
liter air bersih. Setelah itu larutan
biodekomposer disiramkan atau
disemprotkan merata pada tunggul jerami
pada petakan sawah, kemudian digelebeg
dengan traktor, tanah dibiarkan dalam
kondisi lembab dan tidak tergenang minimal
7 hari.
Biodekomposer M-Dec mampu
mempercepat pengomposan jerami secara
insitu dari 2 bulan menjadi 3-4 minggu.
Pengomposan jerami dengan aplikasi
biodekomposer mempercepat residu organik
menjadi bahan organik tanah dan membantu
meningkatkan ketersediaan hara NPK di
tanah, sehingga meningkatkan efisiensi
pemupukan dan menekan perkembangan
penyakit tular tanah.