Jumat, 01 Juli 2016

Mesin Tanam Padi ( Rice Transplanter) Yanmar - AP4

Berkah Romadhon                       Kelompok Tani Sedyo Rahayu ll


MODEL: YANMAR AP4
• Tipe: Pengemudi berjalan dibelakng, 4 alur, 2
roda
• Kapasitas kerja (menit/1000m ): 30~40
• Dimensi (P x L x T): 2190 x 1500 x 1034
• Berat (Kg): 145
MOTOR PENGGERAK
• Model: MZ175
• Tipe (motor penggerak bensin): 4 langkah
berpendingin udara, OHV
• Volume silinder (cc): 171
• Daya rata-rata: 2,6 kW(3,5 HP)/ 3000rpm
• Daya maksimum: 3,2 kW(4,3 HP)/ 3000rpm
• Kapasitas tangki bahan bakar (liter): 4
TRANSMISI
• Sistem penyalaan: Manual (Tarik)
• Penyetelan roda besi: Pengatur ketinggian
dengan hidrolik otomatis
• Jumlah roda besi(buah): 2
• Diameter roda besi(mm): 660
• Tingkat kecepatan: maju 2, mundur 1
• Kecepatan kerja (m/det): 0,32~0,68
BAGIAN PENANAMAN
• Kecepatan jalan maju (m/det): 0,72~0,68
• Kecepatan jalan mundur (m/det): 0,16~0,35
• Jumlah alur: 4
• Jarak tanam alur (cm): 30
• Jarak tanam dalam alur (cm): 22,17,15,12
• Jumlah titik tanam/3,3 m :90,75,65,50
• Kontrol kedalaman penanaman: 15~40 (6
tingkat)

Minggu, 19 Juni 2016

Cara menghitung PPM jika tidak punya TDS Meter

Cara menghitung PPM jika tidak punya TDS
Meter.
Anda bisa menghitungnya dengan memakai
Ukuran standar baku dari Nutrisi AB Mix anda.
Nutrisi AB Mix yang bagus, Peracik nya akan
mencantumkan PPM Baku nya.
Contoh untuk Merk Ijo buatan Om Toni PSM,
seperti foto di bawah:
Silahkan anda perhatikan foto diatas, pada
bungkus B, di sebelah kanan.
Silahkan di klik untuk gambar lebih besar.
disana ada tulisan:
"Campuran A dan B dalam 100 Liter
bernilai kurang lebih EC = 2.0 / 1.000 ppm "
Disini berarti dengan campuran 5mL A + 5mL
B + 1 Liter , akan di dapatkan sekitar 1 Liter Air
Nutrisi bernilai EC 2.0 uS atau kalau dalam
PPM bernilai 1.000 ppm.
Jika ingin mendapatkan 500 ppm dalam 1 Liter
Air, tinggal di bagi 2 saja Larutan A dan B nya,
Yaitu 2,5mL A + 2,5mL B + 1 Liter Air , akan di
dapatkan sekitar 1 Liter Air Nutrisi bernilai 500
ppm.
Jika ingin mendapatkan 200 ppm dalam 1 Liter
Air, tinggal di bagi 2 saja Larutan A dan B nya,
Yaitu 1mL A + 1mL B + 1 Liter Air , akan di
dapatkan sekitar 1 Liter Air Nutrisi bernilai 200
ppm.
Semoga bisa paham. ^_^

Tabel untuk ukuranPPM dan PH Hidroponik

Tabel untuk ukuran PPM dan PH
Hidroponik

Kali ini saya kasih Update tentang informasi
ukuran / takaran PPM dan PH buat Tanaman
Hidroponik.

Pada saat Musim Hujan, Tanaman mem butuh
kan PPM/Ec lebih banyak, jadi silahkan di set
ke PPM/Ec tertinggi .
Sebaliknya saat Musim Panas , tanaman mem
butuh kan PPM/Ec Sedikit, karena tanaman
lebih banyak menyerap Air dan menguapkan Air
lewat Daun nya, maka PPM/Ec sebaiknya di
set terendah .

Kamis, 02 Juni 2016

Hal penting yang di butuhkan dalam ber tani secara Hidroponik

Pertumbuhan tanaman di Sistem Hidroponik itu
di pengaruhi oleh:
1. Kehendak Tuhan, Jangan lupa untuk selalu
berdoa, karena Petani itu hanya bisa berusaha
merawat dan memberikan kebutuhan hidup
tanaman, jadi hasil nya itu kehendak Tuhan,
dan kita harus tetap ber syukur jika hasil panen
nya tidak sesuai harapan atau gagal panen.
2. Karbon Dioksida (CO2) , bukan Asap
pembakaran Bahan Bakar itu Karbon
Monoksida (CO).
3. Sinar Matahari yang cukup,
- Usahakan mendapat Sinar Matahari mulai
pagi sampai sore,
- Atau setidaknya usahakan mendapatkan
sinar matahari pagi sampai siang.
4. Nutrisi Hidroponik yang bagus,
- Nutrisi Hidroponik yang banyak beredar
disebut AB Mix, meski ada juga ABC Mix, ABCD
Mix dan cuman satu Mix saja seperti merk Yara
Kristalon.
- Pemilihan Racikan Nutrisi Hidroponik yang
bagus itu penting, dengan banyaknya merk
yang beredar, maka kita harus pandai memilih
merk yang punya resep racikan dan bahan
racikan yang cocok dengan tanaman dan
kondisi lingkungan kita.
- Ada beberapa Merk Nutrisi AB Mix yang
meninggalkan Redusi/Kotoran Kerak Garam
yang lama lama bisa merusak Sistem dan
menyumbat selang selang, Lalu ada juga yang
membuat pH tidak stabil jadi harus sering cek
dan menstabilkan pH setiap pagi, siang dan
sore.
Dan ada lagi merk yang membuat tanaman
daun nya menguning, pertumbuhan kurang
bagus, dst.
- Akan lebih baik jika anda meracik dan
melakukan percobaan dengan nutrisi sendiri,
karena anda bisa menyesuaikan dengan
kondisi iklim lingkungan, air baku dan tanaman
anda.
- Anda yang masih kelas Hobi atau Kebun
kecil, bisa juga mencoba beberapa Merk dan di
coba sendiri, sekarang banyak yang beredar
dan paket ekonomis yg bisa di pilih.
Lebih baik lagi kalau mendapat saran atau
testimoni dari banyak sumber, dan lebih baik
kalau mereka dari satu daerah, alasanya setiap
daerah punya Air Baku dan Iklim yang berbeda
beda yang bisa mempengaruhi hasil dari Nutrisi
AB Mix.
5. Air Nutrisi yang bagus ,
- Air Nutrisi sebaiknya menggunakan Air Baku
yang bagus ( Soft Water), jika perlu anda
saring/filter air nya agar besih dari garam,
kapur, zat besi yg berlebihan, dst ( jangan
memakai Air payau, Air yang banyak Kapur nya,
dst )
Gunakan Air Baku ( Soft Water ) dengan Nilai
TDS antara 0 - 180 ppm, jangan memakai di
atas 180 ppm, karena ini masuk kategori Hard
Water, ini bisa membuat pH tidak stabil.
Jika Nilai PPM Tinggi, maka di dalam Air Baku
ada kemungkinan mengandung unsur unsur
yang bisa mengacaukan pH dan akhirnya akan
mengganggu pertumbuhan tanaman.
- Menjaga pH Air Nutrisi pada kisaran 5,5
sampai 6,5 ( Tabel pH untuk beberapa
tanaman )
- Menjaga Suhu air di jaga di kisaran 25
celcius, Suhu Air nutrisi yang Hangat bisa
menyebabkan panthogen hidup di Air Nutrisi
( contoh Pythium ) dan menyebabkan
berkurangnya Kadar Oksigen terlarut yang di
butuhkan akar tanaman.
6. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen) yang
banyak,
- Air Nutrisi usahakan mempunyai Kadar
Oksigen terlarut (D.O.) yang banyak, jika perlu
tambahkan Mesin Oksigen , Mesin Aerator + Air
Stone atau memakai Sistem Hidroponik yang
bisa memberikan Oksigen Terlarut yang
banyak.
- Kadar Oksigen Terlarut di pengaruhi Suhu Air,
pada Suhu Air Nutrisi 10 C jumlah D.O. ada di
kisaran 13 ppm, pada 20C ada di kisaran 9
ppm dan pada 30C hanya kisaran 7 ppm.
- Jika Suhu Air Panas, maka jangan
menggunakan Sistem NFT/DFT yang Panjang,
karena dalam perjalanan D.O. akan habis,
sehingga tanaman tidak tumbuh merata.
- Jika tanaman kekurangan Oksigen Terlarut
dalam jangka panjang, maka tanaman akan
Stress (akar akan mengeluarkan hormon
ethylene) sehingga mudah di serang Pythium
(Penyebab Busuk Akar), Daun menjadi kuning,
Tangkai daun menjadi layu, pertumbuhan
melambat karena mengganggu sehingga panen
bisa menurun atau gagal
7. Suhu Lingkungan yang ideal
- Tergantung jenis tanaman, tapi ada di kisaran
antara di 20 - 30 C,
- Suhu Lingkungan maksimal di 43 C,
tergantung jenis tanaman juga.
- Meski suhu lingkungan panas, air nutrisi
harus tetap dijaga agar dingin pada suhu di
kisaran 25 C.
8. Kualitas Benih yang bagus ,
- Jangan menyimpan benih sembarangan,
usahakan di simpan di tempat dingin, saya
sarankan di simpan dalam kulkas, tapi bukan di
freezer.
- Dan usahakan beli benih pack yang kemasan
pabrik,
- Jangan membeli/memakai benih yang sudah
kadaluwarsa,
- Beberapa merk benih punya kekurangan dan
kelebihan tersendiri, jadi jangan heran jika
menanam tanaman yang sama hasil bisa beda
dengan di kebun orang lain.
9. Perawatan yang baik, lalu Kesabaran dan
telaten ,
- Perawatan dengan Pembersihan dan
Sterilisasi Sistem Hidroponik dan Tandon itu
penting, agar tanaman bisa tumbuh dengan
sehat.
- Menanam secara Hidroponik tidak semudah
yang anda bayangkan, untuk dapat hasil yang
bagus kita harus merawatnya dengan sabar
dan telaten, kalau anda hanya kurang sabar
dan telaten, sebaiknya jangan menjadi Petani,
karena anda pasti menyerah di tengah jalan
saat menghadapi capek nya menyemai ,
memindah tanam, membersihkan sistem &
tandon, menghadapi panen jelek, menghadapi
gagal panen, dst
- Kesabaran dan Telaten itu penting, karena
Petani harus Merawat Semaian, Memindahkan
tanaman, membersihkan sistem,
membersihkan tandon, memberikan air nutrisi
jika berkurang, Memperhatikan tanaman apa
ada yang di serang penyakit & hama, dst
Jangan hanya tergiur dengan Hasil Panen yang
banyak dan Uang hasil penjualan yang banyak,
karena di Pertanian tidak se Indah dan
Semudah yang anda Bayangkan.
Sumber.(petaniteguh.)

Teknologi Persemaian Padi Sistem Kering

Teknologi persemaian padi sistem kering
adalah teknologi persemaian dalam kotak
semai plastik yang dilapisi filter berupa kertas
koran. Keuntungan menerapkan teknologi
sistem persemaian ini di antaranya; tidak perlu
melakukan pengolahan tanah dan daut
(pencabutan), hemat lahan dan air, sesuai
untuk lahan garapan yang sempit (<1000 m2),
pemeliharaan mudah dan efisien serta biaya
lebih murah dibandingkan teknologi
persemaian padi sawah secara konvensional
atau persemaian basah.
Langkah awal untuk membuat persemaian
kering adalah menyiapkan kotak semai berupa
kotak plastik berukuran 40x30x3 cm. Kotak
plastik dilubangi 4 titik pada dasar kotak
kemudian dilapisi kertas koran. Kertas koran
berfungsi sebagai filter untuk mengatur air
infiltrasi dan kelembaban dalam kotak semai.
Setelah dilapisi kertas koran pada kotak
plastik, selanjutnya masukkan tanah/media
tanam ke dalamnya. Media tanam yang
digunakan berupa tanah gembur yang kaya
unsur hara.
Setelah media tanam disiapkan, benih
disebarkan secara merata dan ditutup lagi
dengan media tanam yang sama setebal ±1cm,
kemudian disiram air sampai menetes melalui
keempat lubang tersebut. Pada umur 7 hari
setelah semai bibit padi sudah muncul (vigor).
Penyiraman dilakukan 2 hari sekali sampai
umur 7-12 hari. Pada umur 13-15 hari disiram
setiap hari pada sore hari. Bibit padi siap
ditanam di sawah pada umur 15 hari. Untuk
persemaian padi dalam jumlah besar
diperlukan rumah bibit yang dilengkapi rak-rak
yang disusun secara bertingkat.
Manfaat teknologi persemaian ini antara lain
persemaian dapat dilakukan di luar areal
produksi, hemat kebutuhan benih (±10 kg/ha),
hemat lahan dan air, mengurangi resiko
kegagalan karena banjir, serangan OPT,
pertumbuhan bibit lebih cepat, dan sapat
mengikuti percepatan musim tanam. Selain itu,
perlakuan benih dapat dilakukan pada tanah
kahat Zn, tanaman dan tidak mengalami stres.
Dengan cara ini juga tidak dibutuhkan tenaga
kerja untuk cabut, serta menguntungkan bagi
pemilikan lahan sempit. Pengalaman petani,
teknik ini dapat mempercepat tanam 10-15
hari dibandingkan dengan sistem persemaian
basah, dan kelayakan finansialnya cukup tinggi
yaitu benefit cost ratio (B/C) adalah 2,66. (
yogya.litbang.pertanian.go.id/)

Pengendalian Tikus Secara Kimiawi

Pengendalian Tikus Secara
Kimiawi
Pengendalian kimiawi merupakan pilihan
terakhir dalam pengendalian tikus.
Pengendalian ini dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat
membunuh tikus atau dapat menganggu
aktivitas tikus, baik aktivitas untuk makan,
minum, mencari pasangan maupun reproduksi.
Secara umum pengendalian dengan cara
kimiawi dibedakan menjadi empat jenis yaitu:
1. Rodentisida. Rodentisida atau
umpan racun merupakan
teknologi pengendalian tikus
yang paling banyak dikenal
dan digunakan oleh petani untuk
membunuh tikus sawah.
Rodentisida yang dipasarkan
pada umumnya dalam bentuk
siap pakai, atau mencampur
sendiri dengan bahan umpan.
Rodentisida digolongkan menjadi
racun akut dan antikoagulan.
Racun akut dapat membunuh
tikus langsung di tempat
setelah  makan  umpan, sehingga
dapat menyebabkan tikus jera.
Sedangkan rodentisida
antikoagulan akan menyebabkan
tikus mati setelah lima hari
memakan umpan dengan dosis
yang cukup sehingga tidak
menyebabkan jera umpan.
Keberhasilan pengumpanan
rodentisida sangat dipengaruhi
oleh waktu pengumpanan, jenis
umpan dan penempatannya.
Waktu yang tepat untuk
pengumpanan adalah ketika di
lapangan sudah tidak ada lagi
pakan padi (bera) sampai padi
vegetatif.
2. Fumigasi. Bahan fumigan yang
sering digunakan oleh petani
sampai saat ini adalah asap
belerang dan karbit. Penggunaan
emposan asap belerang
merupakan cara pengendalian
tikus yang efektif, mudah
diaplikasikan dengan biaya
murah.Teknik tersebut
merupakan teknik untuk
membunuh tikus sawah di dalam
sarang dan dapat dilakukan
kapan saja atau pada periode
bera dan saat pertanaman padi.
Namun pengemposan yang
paling efektif adalah dilakukan
pada saat padi generatif, yaitu
ketika tikus sawah sedang
beranak di dalam sarang. Teknik
tersebut dapat membunuh anak
tikus bersama induknya di dalam
sarang. Jenis fumigasi lainnya
yang dapat dipakai adalah
“tiram” dengan menggunakan
teknik asap kembang api dengan
bahan aktif belerang. Tiram
dimasukkan ke dalam sarang
tikus dan dinyalakan sumbunya,
maka asap belerang akan keluar
dan dapat membunuh tikus.
3. Repellant. Repellent adalah
bahan untuk menolak atau
membuat tikus tidak nyaman
berada di daerah yang
dikendalikan. Penggunaan
repellent di lapangan untuk
mencegah/mengusir tikus sawah
masih jarang digunakan, karena
hanya bersifat mengusir dan
tidak membunuh tikus. Beberapa
bahan alami nabati seperti akar
wangi diduga mempunyai efek
repellent terhadap tikus, namun
masih diperlukan penelitian yang
lebih intensif.
4. Antifertilitas. Pemandulan tikus,
baik tikus jantan maupun tikus
betina dapat digunakan untuk
pengendalian tikus. Cara ini
mempunyai prospek baik karena
tikus sawah mempunyai
perkembangbiakan yang cepat
dan jumlah anak yang banyak
dalam setiap kelahiran. Beberapa
jenis bahan kimia yang
digunakan untuk pemandulan
manusia juga dapat digunakan
untuk memandulkan tikus
sawah. Kesulitan dalam
penggunaan bahan
antifertilitas di lapangan pada
umumnya menyangkut dosis
umpan yang dikonsumsi tikus
sawah kurang cukup (subdosis)
sehingga tikus yang
mengkonsumsi bahan
antifertilitas tersebut tidak efektif
menjadi mandul. Ekstrak minyak
biji jarak (Richinus communis)
telah diteliti juga dapat
digunakan sebagai rodentisida
dan antifertilitas nabati.
(litbang.pertanian.go.id)

Kamis, 12 Mei 2016

Aplikasi Pupuk Hayati dan Biodekomposer Pada Teknologi Tanam Jarwo Super

Aplikasi Pupuk hayati dan
Biodekomposer Pada
Teknologi Tanam Jajar
Legowo Super
Aplikasi Pupuk Hayati
Pupuk hayati adalah pupuk berbasis
mikroba non-patogenik yang dapat
menghasilkan fitohormon (zat pemacu
tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan
pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan
kesuburan dan kesehatan tanah.
Pupuk hayati Agrimeth memiliki aktivitas
enzimatik dan fitohormon yang berpengaruh
positif terhadap pengambilan hara makro
dan mikro tanah, memacu pertumbuhan,
pembungaan, pemasakan biji, pematahan
dormansi, meningkatkan vigor dan viabilitas
benih, efisiensi penggunaan pupuk NPK
anorganik dan produktivitas tanaman.
Aplikasi pupuk hayati Agrimeth dilakukan
pada pagi hari (sebelum jam 08.00 pagi)
atau sore hari (pukul 15.00-17.00) dan
tidak terjadi hujan. Pupuk hayati hanya
diaplikasikan sekali, yakni pada saat benih
akan disemai dengan cara perlakuan benih
( seed treatment ).
Benih yang telah tercampur pupuk hayati
segera disemai, upayakan tidak ditunda
lebih dari 3 jam, dan tidak terkena paparan
sinar matahari agar tidak mematikan
mikroba yang telah melekat pada benih.
Sisa pupuk hayati disebarkan di lahan
persemaian.
Aplikasi pupuk hayati Agrimeth pada benih
padi
Aplikasi Biodekomposer
Biodekomposer adalah komponen teknologi
perombak bahan organik, diaplikasikan 4
kg/ha dicampur secara merata dengan 400
liter air bersih. Setelah itu larutan
biodekomposer disiramkan atau
disemprotkan merata pada tunggul jerami
pada petakan sawah, kemudian digelebeg
dengan traktor, tanah dibiarkan dalam
kondisi lembab dan tidak tergenang minimal
7 hari.
Biodekomposer M-Dec mampu
mempercepat pengomposan jerami secara
insitu dari 2 bulan menjadi 3-4 minggu.
Pengomposan jerami dengan aplikasi
biodekomposer mempercepat residu organik
menjadi bahan organik tanah dan membantu
meningkatkan ketersediaan hara NPK di
tanah, sehingga meningkatkan efisiensi
pemupukan dan menekan perkembangan
penyakit tular tanah.

Jumat, 29 April 2016

Penyakit Penting pada Tanaman Padi



Penyakit Penting pada Tanaman Padi



PENYAKIT BLAS
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX66RmkRkVEX35aX2koo9pZLWNO-sRy7mxADlclZn7pJ2DIy87X6WgNu6zcgrR0ri1buFwDO44CBPawmQoYyKTXKyrd7LmaF7FYMy22N19wKyNtjYlkbJTxv8ugBq1ZY_eoRrl0MLZqiZ2/s1600/blas.jpg


Penyakit blast telah dikenal di semua negara penghasil padi dunia dan dianggap sebagai penyakit terpenting. Di Indonesia penyakit blast pertama kali dilaporkan oleh Rutgers pada tahun 1913 di Jawa Timur. Penyakit ini terdapat terutama pada pertanaman yang subur sehingga usaha intensifikasi padi justru dapat meningkatkan insiden penyakit ini.
Gejala Penyakit
Gejala penyakit blast dapat muncul pada daun, batang, malai, bulir padi. Bercak pada daun (leaf blas) berbentuk belah ketupat, awalnya hijau keabu-abuan kemudian putih dan akhirnya abu-abu dengan bagian tepi berwarna coklat atau coklat kemerahan. Bentuk dan warna bercak bervariasi tergantung keadaan lingkungan, umur bercak, ketahanan padi.

Pada gejala busuk leher (neck blast) tangkai malai busuk dan patah. Pada malai mengalami hampa karena penyakit terjadi sebelum masa pengisian bulir. Busuk juga dapat terjadi pada seludang daun dan bercak-bercak kecil pada bulir padi
Penyebab Penyakit
Disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae (fase aseksual) atau Magnaporthe grisea (fase sempurna). Mempunyai konidiofora bersekat-sekat, jarang bercabang, berwarna kelabu, membentuk konidium pada ujungnya. Konidium berbentuk buah alpokat, bersel tiga, hialin, 1 – 20 konidia per konidiofora. Terdapat banyak (lebih dari 260) ras fisiologi yang berbeda virulensinya dan mudah bermutasi yang menyebabkan tahan terhadap fungisida. Patogen ini mengeluarkan beberapa jenis toksin (misalnya picolinic acid, pyricularin, pyriculol, tenuazonic acid) yang mematikan sel tanaman sehingga termasuk patogen non abligat.
Siklus Penyakit
Penularan terutama terjadi dengan kodinia yang dapat dipencarkan jauh oleh angin, terutama malam hari atau siang hari sehabis turun hujanKonidium lepas bila kelembaban udara lebih dari 90% secara ekplosif karena pecahnya sel kecil di bawah konidium akibat tekanan osmotik.

Tersapat cairan bahan pelengket pada permukaan inang dikeluarkan di ujung konidia. Konidia berkecambah, penetrasi kutikula inang dengan apresorium. Bila Infeksi berhasil maka akan muncul gejala dengan sporulasi (12 hari) sehingga bersifat polisiklik. Patogen bertahan sebagai konidia atau miselium pada biji, sisa tanaman dan gulma (famili Graminea: Panicum repens, Pennisetum purpureum, Setaria italica, Eleusine indica)
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Kelebihan nitrogen dan/atau kekurangan air (mis: padi gogo) menambah kerentanan tanaman. Kedua faktor ini menyebabkan berkurangnya kandungan silikat jaringan tananaman. Keberhasilan infeksi dipengaruhi oleh lamanya daun basah akibatembun pagi. Padi gogo lebih rentan daripada padi sawah. Suhu 25-30C optimum untuk perkecambahan konidia dan pembentukan apresoriu. Masa terentan tanaman terjadi saat batang padi tumbuh memanjang (+ 55 hari). Terdapat perbedaan respon tanaman padi yaitu jenis indica lebih tahan dari pada japonica sehingga padi ketan sangat rentan. Patogen mudah membentuk ras baru mematahkan ketahanan tanaman
Pengendalian Penyakit
Pemupukan seimbang, nitrogen tidak berlebihan. Pengairan mencukupi s tress air padi gogo lebih tinggi daripada padi sawah. Pemusnahan sisa tanaman sakit dan gulma. Penggunaan benih sehat yaitu dengan benomil atau tiram, air panas 50C selama 5 menit. Aplikasi fungisida.

PENYAKIT HAWAR BAKTERI
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj486vgL-0xQYVJi0SnBb_70Wy7pTejMIxmKehTe9Ft_dd6_YIoJL-AhjoMM7GZE8qGr4qbJToDaWkPEGtYQjeJ42_CU-uuVrnS_1qQaxf6iielUpaDAJmbxDJDUhiSAJS7HNOQQbY7EY9n/s1600/hawar+bakteri.jpg
Penyebab Penyakit
Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Diketahui 8 kelompok atau patotipe yang bervariasi dalam virulensi. Patotipe I dan II tidak terdapat di Indonesia. Patotipe III dan IV terdapat di Sulsel, Kalsel, Jawa dan Bali (IV tidak terdapat di Kalsel). Patotipe V hanya di Bali. Patotipe VI – VIII hanya di Jabar
Gejala Penyakit
Pada potongan daun sakit bila dicelupkan dalam air bening maka terdapat gumpalan massa bakteri (ooze)
Siklus Penyakit
Bakteri dapat bertahan pada tunggul padi dan gulma (Leersia oryzoides, Zizania latifolia, Leptochloa chinensis, Cyperus rotundis). Bakteri dalam biji padi tidak bertahan lama. Selain itu bakteri dapat hidup dalam air irigasi. Infeksi melalui hidatoda atau luka pada daun dan akar akibat pemotongan ujung bibit dan kerusakan akar akibat dicabut.
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Kelembaban tinggi, air berlebihan, suhu hangat (25-30C) optimum bagi perkembangan penyakit. Umumnya padi sawah lebih rentan terserang daripada padi gogo. Penyebaran bakteri melalui air irigasi, persinggungan antar tanaman, alat pertanian, hujan angin sehingga insiden penyakit tinggi
Pengendalian Penyakit
Penanaman varietas resisten terutama gene-to-gene resistance. Kultur teknis dengan menghindari pemupukan nitrogen berlebihan, penggenangan yang tidak perlu, penyiangan gulma dan tunggul padi. Penggunaan Bakterisida tidak memberikan hasil yang memadai

PENYAKIT TUNGRO
Tungro penting untuk kawasan Asia. Dikenal dengan berbagai nama misalnya Mentek atau Habang (Indonesia), Penyakit Merah (Malaysia), Yellow-orange leaf (Thailand), Waika (Jepang). Kehilangan hasil berkisar antara 10 – 40%
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJmymbovGbE_15cTvMIncINaElO9MwWtrgYobNh5WLS849skeGQsR_rb4hmBObei7bJxMSr4fFMwtkkD6dJ0jF_OUTmEW_UNAVayUquQHYnGCGIyOZTeWUemqcq3YluqDmzCvMl32MUBfX/s1600/tungro.jpg
Gejala Penyakit
Tungro disebabkan oleh infeksi dua jenis virus: Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV). Sinergisme kedua virus ini menyebabkan pertumbuhan tanaman tehambat, daun berwarna kuning sampai orange, jumlah anakan berkurang. Infeksi RTBV saja hanya menimbulkan gejala sedang, dan infeksi RTSV saja gajala sangat lemah. Keparahan gejala tergantung dari varietas padi, strain virus, umur tanaman saat terinfeksi dan keadaan lingkungan
Penyebab Penyakit
RTBV berpartikel batang 100 – 300 x 30 – 35 nm dan bergenom DNA untai ganda sirkular. Sedangkan RTSV berpatikel bulat dengan diameter 30 nm dan bergenom RNA untai tunggal. Kedua virus dapat ditularkan oleh Nephotettix virescens, N. cincticeps, N. nigropictus, N. parvus, N. malayanus, dan Recilia dorsalis dengan makan akuisisi minimal 30 menit, tidak ada periode laten, makan inokulasi minimal 7 menit, retensi 3-5 hari, non-transtadial. Yang perlu diperhatikan penularan RTBV tergantung pada RTSV, tetapi tidak sebaliknya
Siklus Penyakit
Virus dapat menginfeksi tunggul padi sisa panen dan beberapa gulma jenis rumput-rumputan (Dactyloctenium aegyptium, Eleusine indica, Echinochloa colonum, E. crusgalli) Selain itu tunggul pada yang tumbuh dari tanaman terinfeksi juga dapat menjadi sumber inokulum
Pengendalian Penyakit
Penanaman serempak varietas padi tahan serangga vektor diikuti dengan pemusnahan tunggul-tunggul padi dan gulma. Pengendalian vektor dengan insektisida

PENYAKIT BERCAK COKLAT
Umum terdapat di negara penghasil padi dunia (tropis dan subtropis). Di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh van Breda de Haan pada tahun 1900. Terdapat terutama pada pertanaman yang kurang baik keadaannya (kekurangan air atau unsur hara)
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4OlY0pxn8XRbYWdZmL8xxMRNRYRbHs_a-8jsVyV1qjh1hlhUEEtchIe0573tCR2l39tAf1Mq_HVK20qRhZwRNXDqcmRLm6JuJSlfwFiOaPlq5EErjZZ6frkx9qbjZpldnjMN_mlQk6x_H/s1600/bercak+coklat.jpg
Gejala Penyakit
Dapat muncul pada semai, daun, bulir padi (disebut kerusakan fase 1, 2, 3) Pada persemaian bibit yang terinfeksi busuk pada koleoptil, batang dan akar sehingga mati. Gejala pada daun berupa bercak memanjang (oval) bertepi coklat tua dan bagian tengah kuning pucat, kelabu, dan kadang dikelilingi “halo”. Bila terserang berat daun menjadi kering, batang dan tangkai bulir terinfeksi patah sehingga biji keriput; atau tanaman tidak membentuk malai atau malai tidak keluar dari upih. Pada bulir padi hanya sebagian biji pada malai yang terserang; bercak berwarna coklat
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Dreschslera oryzae atau Bipolaris oryzae atau Helminthosporium oryzae. Di atas permukaan bercak, konidiofora menyangga 1-6 konidia. Konidium melengkung, di tengah agak lebar, bersekat 6-14, berhilum, kecoklatan. Konidium berkecambah dari kedua sel ujung. Cendawan dapat menghasilkan enzim proteolitik penghancurkan dinding sel, dan juga menghasilkan cochliobolin atau opiobolin, yaitu toksin penghambat pertumbuhan akar dan pengganggu respirasi daun
Siklus Penyakit
Miselium dan konidia dapat bertahan dalam biji selama 4 tahun; atau pada jerami atau tanah. Konidia terbawa angin atau benih; tanah terinfestasi; sisa tanaman atau gulma sakit ® sumber infeksi primer. (Gulma: Leersia hexandra, Cynodon dactylon, Digitaria sanguinalis, Eleusine indica, E. corona). Konidium berkecambah dari kedua sel ujung, penetrasi epidermis inang dengan/tanpa apresorium, perkecambahan perlu air bebas dan suhu 16-30C/optimum 20-30C. Polycyclic terjadi bila ada infeksi, muncul gejala, sporulasi kemudian konidia menginfeksi tanaman baru, siklus tersebut berulang kembali.
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Ketahanan tanaman berbeda dan berkorelasi dengan ketebalan sel epidermis dan lapisan kutikula, kandungan silikat dalam sel, dan kecepatan akumulasi polifenol saat infeksi. Tanaman padi bertambah rentan semakin bertambahnya umur dan eriode paling rentan saat pembentukan bunga dan buah. Padi yang ditanam di tempat kering (padi gogo) lebih rentan. Hal ini berhubungan dengan kelembaban tanah dan udara. Kelebihan/kekurang nitrogen memperparah penyakit. Selain itu insiden penyakit lebih banyak pada tanaman kekurangan besi, mangan atau kalium.
Pengendalian Penyakit
Memperbaiki cara bertanam: pemupukan seimbang; pengairan yang cukup; penanaman serempak. Patogen bertahan dalam tanah sehingga perlu pergiliran tanaman. Sanitasi yaitu eleminasi sisa tanaman dan gulma sakit. Untuk mengindari terbawa benih perlakuan dengan fungisida atau air panas.

PENYAKIT BERCAK COKLAT SEMPIT
Pertama kali dilaporkan di Indonesia (Jawa) pada tahun 1900 oleh Raciborski dan kemudian di Jepang tahun1906. Saat ini telah tersebar di semua negara penghasil padi dunia dan dikenal dengan narrow brown leaf spot
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyApUG3liRphy5yHi588fD5ByoV5PVUHZzguXgJcUWlMZQ_pBDcV6ShyBXHJBp5a0iL_DQnZnfqP47iNBGAq9QIvsOPrcuYAooa9p4X3BqCjvrHLqGsZMZy7ivg5I6SHkSR6lxMW1YvNQe/s1600/bercak+coklat+sempit.jpg
Gejala Penyakit
Gejala muncul selama fase reproduksi tanaman padi dan gejala paling berat tampak sekitar sebulan sebelum panen. Dicirikan oleh bercak adanya sempit memanjang pada daun, berwarna coklat kemerahan, sejajar dengan tulang daun. Pada serangan yang berat bercak dapat timbul pada seludang daun, batang, dan bulir. Bercak cenderung lebih sempit, lebih pendek dan berwarna lebih gelap pada varietas padi yang resisten
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Cercospora janseana atau Cercospora oryzae atau Sphaerulina oryzina (stadium sempurna). Konidiofora berwarna coklat, tumbuh di atas bercak sendiri-sendiri atau berkumpul sampai tiga. Konidium dibentuk di atas konidiofora, berbentuk gada terbalik, bersekat 3 – 10.
Siklus Penyakit
Konidia disebarkan oleh angin dan infeksi terjadi melalui stomata, hifa berkembang di ruang antar sel. Masa inkubasi sebulan atau lebih: gejala tampak lambat di lapang walaupun infeksi terjadi saat tanaman muda. Patogen dapat bertahan hidup pada jerami atau bulir padi atau gulma (Panicum repens)
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Kerentanan varietas padi terhadap race cendawan dan fase pertumbuhan tanaman adalah faktor yang menentukan perkembangan penyakit. Semua stadia pertumbuhan tanaman padi rentan terhadap infeksi C. oryzae. Pembentukan dan pengisian malai adalah saat paling rentan
Pengendalian Penyakit
Penanaman jenis padi yang tahan. Penyemprotan dengan benomil atau mankozeb dapat meningkatkan (menyelamatkan) hasil 30%

PENYAKIT HAWAR SELUDANG
Dulu dianggap kurang penting, akhir-akhir ini sering dilaporkan menimbulkan kerusakan berat, di dunia menempati urutan kedua setelah blast. Penyakit mempengaruhi jumlah gabah yang berisi tiap malai, panjang malai dan persen kehampaan, tetapi tidak berat 100 biji
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwpWwPldDd4qHq7nejvmHL8onBmiiQ85DPezQEzRnXSUxw8nyV0GfrKzWRAtFF46FS5N6OV4pFrICxmMu_Uwt9MgDiOOXSSJOyWuRGH0KJPgibbzIS_en3Xe8HSuQPVK4VQG-rI0UNFlA5/s1600/hawar+seludang.jpg
Gejala Penyakit
Pada akhir stadia anakan muncul gejala awal: bercak oval 1 cm kehijauan pada seludang daun dekat permukaan air. Bercak berkembang cepat menjadi hawar sampai ke daun, coklat/seperti jerami. Pada serangan berat, seluruh bagian tanaman mengeringBulir padi dapat terserang hawar
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Rhizoctonia solani dan R. Oryzae. Rhizoctonia solani membentuk sclerotium pada permukaan hawar namun belum pernah ditemukan sclerotium yang dibentuk R. oryzae
Patogen membentuk tiga jenis hifa yaitu
Runner hyphae : tumbuh cepat di permukaan tanaman.
Lobate hyphae : hifa yang membengkak menjadi bantalan untuk penetrasi (apresorium).
Monilioid cell : hifa bersel satu berdiferensiasi dan berkembang menjadi sclerotium
Siklus Penyakit
Cendawan bertahan sebagai sclerotium atau miselium pada sisa tanaman. Sclerotium mengambang di permukaan air sawah®berkumpul di sekitar pertanaman padi®infeksi pada seludang dekat permukaan air. Banyak inang (kedelai, kacang-kacangan, dan berbagai jenis gulma) sehingga disimpulkan bahwa sumber infeksi untuk padi selalu ada.
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Penyakit dibantu oleh penanaman yang terlalu rapat. Tanaman padi yang terlalu subur lebih rentan terhadap penyakit ini. Jenis padi yang berbatang pendek dan mempunyai anakan banyak lebih rentan terhadap R. Solani
Pengendalian Penyakit
Sinar matahari intensif dapat menekan perkembangan penyakit sehingga jenis padi dengan anakan banyak lebih rentan. Hal ini dapat diatasi dengan memperlebar jarak tanam. Tanaman padi terlalu subur (N tinggi) lebih rentan sehingga harus melalui pemupukan seimbang. Patogen tular tanah sehingga perlu sanitasi

PENYAKIT BUSUK BATANG
Busuk batang (stem rot) pertama kali dideskripsi oleh Cattaneo pada tahun 1876 di Italia. Penyakit telah terdapat di pertanaman padi di daerah tropis dan di daerah beriklim sedang. Penyakit ini telah terdapat di Indonesia (Ramlan et al. 1985) terutama di Jawa dan Sumatera

Gejala Penyakit
Bila fase anakan telah lewat lewat maka gejala awal beupa bercak hitam tidak teratur pada seludang daun di atas garis air sawah. Bila penyakit semakin berkembang maka bercak dapat membesar sehingga patogen menginvasi ke bagian dalam seludangInvasi patogen sampai pada bagian batang. Hal ini menyebabkan bulir tidak berisi bahkan tanaman mati.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxbPFDkh2-ZREXMEKSlwkxsYDmKfCC-dis4Xm2K9MUifuO1x-S-cGdjURaWx4eq-GYX6IMF8TIkcjjIUeIudCpbrHGjj8H9oqOj7GguXff60HA3HeAitO15ZIhiwL6Ggqs0r-15qVhKFLP/s1600/busuk+batang.jpg
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Sclerotium oryzae (fase sclerotium; umum ditemukan), Nakataea sigmoidea (fase konidium) atau Magnaporthe salvinii (peritesium; fase sempurna). Sclerotium banyak dibentuk di permukaan bagian tanaman sakit bulat 2-3 mm berwarna hitam.
Siklus Penyakit
Scleorotium pada sisa tanaman atau tanah. Bila dilakukan penggenangan sawah maka sclerotium mengambang ikut aliran air lalu menginfeksi seludang daun lalu gejala muncul dan terjadi sporulasi yang menghasilkan sclerotium kembali dalam jumlah banyak

Infeksi permulaan terjadi karena skerotium membentuk apresorium dan bantalan infeksi. Sporulasi juga membentuk konidia dan askospora yang merupakan inokulum tambahan. Jumlah sclerotium di permukaan tanah menentukan berat/ringan penyakit pada siklus pertama.
Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Kelebihan nitrogen membantu penyakit, tetapi pemberian natrium silikat atau kalium mengurangi penyakit. Adanya luka termasuk luka akibat serangga menambah kerentanan tanaman
Pengendalian Penyakit
Diarahkan pada pengelolaan residu sisa tanaman, pemupukan tepat, pemilihan varietas. Pembenaman sisa tanaman dapat menurunkan secara drastis viabilitas sclerotium. Pemupukan nitrogen tidak berlebihan untuk menghindari penurunan ketahan. Penggunaan Varietas tahan dapat menginaktifkan enzyme pendegradasi dinding sel

PENYAKIT FUSARIUM (BAKANAE)
Penyakit ini banyak terdapat di daerah beriklim basah di Asia. Pertama kali dilaporkan di Jepang tahun 1829 dengan sebutan “Bakanae”. Di Indonesia adanya penyakit oleh Fusarium dilaporkan tahun 1938
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRgZWuW_9njP01w2bQQw_hPHgUmfgxZtmM2ZB-Fu0-tDzO_39PGmZghqZ85N4qlT6zfhnZQdT95uQUtUnrwl7xDs40Slss5CaDEF11KkybaCnK_a1K0a-fDCT4k2FfSjDUrIzg6KS01y7/s1600/Fusarium.jpg
Gejala Penyakit
Gejala terutama terlihat pada tanaman muda atau di pembibitan. Tanaman terinfeksi mempunyai batang 1,5 sampai 2 kali panjang tanaman sehat, berwarna pucat. Gejala hiperplasia ini akibat patogen mengeluarkan gibberellin
Bila tanaman tua terserang juga memperlihatkan pertumbuhan batang yang abnormal; pada pangkal batang tumbuh banyak akar lateral. Tanaman yang dapat bertahan sampai tua umumnya steril, tidak menghasilkan malai. Istilah “palay lalake” (bhs Filipina = padi jantan) digunakan untuk padi yang steril ini

Terdapat dua strain patogen penyebab penyakit ini. Strain yang menghasilkan lebih banyak gibberellin maka akan menginduksi hiperplasia sedangkan strain yang menghasilkan lebih banyak fusaric acid maka akan menginduksi hipoplasia yaitu pertumbuhan terhambat sehingga tampak kerdil
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Fusarium moniliforme (bentuk sempurnanya: Gebberella fujikuroi). Membentuk peritesium yang di dalamnya berisi askus yang masing-masing mengandung 4-8 askospora. Mikrokonidia hialin, oval, satu sel, dibentuk berantai. Makrokonidia melengkung dengan ujung meruncing bersepta 3-5
Siklus Penyakit
Fusarium dapat berkembang dan bertahan dalam sisa tanaman yang berada di dalam dan di atas tanah. F. miniliforme adalah patogen tular benih, infeksi benih terjadi sebelum panen melalui konidia dan askospora yang diterbangkan angin, atau karena kontaminasi selama proses pemanenan.

Cendawan tidak menginvestasi benih secara internal. Patogen menginfeksi tanaman melalui akar atau pucuk tanaman secara sistemik tetapi tidak sampai ke malai. Cendawan juga dapat menyerang tebu, jagung dan padi-padian lain. Pemencaran inokulum terutama dilakukan oleh angin
Pengendalian Penyakit
Penggunaan benih sehat sangat penting untuk mengendalikan penyakit ini. Tetapi di Indonesia penyakit kurang mempunyai arti ekonomi, sehingga belum pernah dilakukan pengendalian

PENYAKIT GOSONG PALSU
Penyakit ini sudah terdapat di semua negara penanam padi termasuk Indonesia. Gosong palsu umumnya adalah penyakit minor, tetapi kejadian endemik pernah dilaporkan di India, Myanmar, Peru dan Pilipina.

Gejala Penyakit
Biji padi berubah menjadi bola spora berdiameter 1 cm (bahkan ada yang mencapai 5 cm), keluar diantara sekam, berwarna kuning emas dan kadang-kadang hijau. Bagian tengah dari bola ini adalah suatu anyaman meselium padat yang merupakan sklerotium. Dilaporkan bahwa bulir yang berdekatan dengan bulir yang menunjukkan gosong palsu adalah sehat. Di bagian luar dari anyaman miselium ini terdapat tiga lapisan spora. Lapisan dalam dan tengah adalah spora yang belum matang berwarna kuning keemasan. Lapisan luar adalah spora yang telah matang berwarna agak kehitaman. Umumnya hanya beberapa bulir padi saja yang terserang pada satu malai.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiu-vCbbMMGJ-f4TuA9ptBAJy52cjWDPNsoyPJcW20DCmvSzEPHVr-7IeOU-Q3oM5XCuP6w_OXXVU5t2_yG3sjrYlwEPON4mryPfLe_EW_oj5kDtfGP3zX8JQXQNcxrkQMCK1e1_y_uFXX5/s1600/gosong+palsu.jpg

Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Ustilaginoidea virens yang membentuk sklerotium berdiameter 5-8 mm. Konidia yang dibentuk di permukaan sklerotium, berbentuk bulat lonjong, berduri, berukuran 4-6 x 3-5 um, berkecambah dengan membentuk konidium sekunder yang lebih kecil dan hialin
Siklus Penyakit
Konidia tersebar oleh angin, menginfeksi bunga atau biji yang mulai terbentuk. Patogen dapat bertahan sebagai sklerotium atau sebagai bola spora yang mengeras yang disebut pseudomorph.
Pseudomorph dapat bertahan 4 bulan dalam kondisi lapangan. Musim hujan, kelembaban tinggi, pemupukan nitrogen berlebih meningkatkan perkembangan penyakit
Pengendalian Penyakit
Jarang dikendalikan karena kurang merugikan. Beberapa varietas padi dilaporkan tahan terhadap U. Virens. Beberapa jenis fungisida dapat secara efektif mengendalikan gosong palsu

PENYAKIT KEMBANG API
Penyakit kembang api, yang juga dikenal dengan sebutan Udbatta (bhs. India), telah dilaporkan terdapat di India, China, Vietnam, Hongkong, New Caledonia, dan Afrika Barat. Dapat menyebabkan kerugian yang berat pada daerah yang sudah endemik, tetapi umumnya bersifat sporadis dan tidak terlalu penting. Penyakit ini mungkin sudah lama ada di Indonesia, tetapi baru dilaporkan pada tahun 1976 terdapat di Jawa.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGRJldbkj_4yZ1JKgjDb47gkvm51pNDWiaYXc0R_owPtoy44qkl8ioL7dk7Q40DnRzKYAsOihEPw_Cgy-z7lclpIWR7Nhyg5KtZStWyrxzW7Y5lzyHrHligH75e0NHbC-jw7boj7vw0f1k/s1600/kembang+api.jpg
Gejala Penyakit
Gejala tidak akan tampak sampai fase bunting. Malai yang keluar dari upih daun berndera diliputi oleh miselium cendawan berwarna putih, biji-biji hampa terekat satu sama lain, tegak kaku seperti mummi. Mumifikasi terjadi saat masih terbungkus oleh upih daun bendera, maka malai yang sudah seperti mummi ini tegak lurus tampak seperti kembang api. Patogen membentuk sklerotium hitam pada permukaan kembang api. Daun bendera lebih kecil dari normal kadang berwarna keperakan. Tanaman terinfeksi terhambat pertumbuhannya
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Ephelis oryzae (stadium sempurnanya disebut Balansia oryzae-sativae). Membentuk stroma putih sampai kelabu menyelubungi permukaan malai. Dalam stroma dibentuk piknidium bulat 1-1,5 mm. Konidiofora bercabang, hialin, berukuran 22-85 x 1-1,4 um. Konidia seperti jarum, bersel satu, hialin, berukuran 12-40 x 1.2-1,5 um.
Siklus Penyakit
Patogen menginvasi tanaman secara sistemik dan menginfeksi tanaman saat masih bibit. Infeksi bibit mungkin melalui benih yang membawa patogen. Infeksi oleh konidia juga dapat terjadi melalui bunga. Patogen dapat terbawa biji tetapi tidak dapat bertahan dalam tanah. Cendawan dapat bertahan pada gulma yang umum terdapat di sawah seperti Echinochloa crusgalli, Cynodon dactylon, dan Setaria italica.


Pengendalian Penyakit
Karena dianggap kurang penting, penyakit ini jarang dikendalikan. Bila diperlukan, pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan benih sehat atau perlakuan benih dengan air hangat (54C selama 10 menit), atau dengan perlakuan benih dengan fungisida.

PENYAKIT STACKBURN
Pertama kali dilaporkan terdapat di Amerika Serikat (Lousiana dan Texas) pada tahun 1916. Saat ini diketahui bahwa penyakit terdapat di banyak negara Asia Tenggara. Di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun1972
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7T0RYvzBHkO-81LMyxLEPYGDCSV_jrRywbtxXob23lDZWp4EtDOSed8hjinDixfTeOlVv6Foefx6mZHoRqBPzRTm4kCLwyv8vNa52UaqQPghRiDvEsQlS1jAuoWlEyyZEIgZ_k1QSvKty/s1600/stackburn.jpg
Gejala Penyakit
Pada daun terjadi bercak oval 3-10 mm, bertepi coklat dengan pusat yang semula berwarna coklat pucat sedikit demi sedikit berubah menjadi putih dengan banyak titik-titik hitam yang terdiri dari sklerotium. Bulir yang terinfeksi berbercak coklat dengan tepi lebih gelap, infeksi dapat sampai ke biji dan menyebabkan biji keriput dan mudah pecah.
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Alternaria padwickii. Sklerotium bulat berdiameter 50-200 um berwarna hitam. Konidiofora berukuran 3-4 um tumbuh tegak sampai ketinggian 180 um. Konidia berdinding tebal bersekat 3-5, pada sekat agak melekuk, sel kedua atau ketiga lebih besar dari sel lainnya, berukuran 11-20 x 95-170 um (termasuk ekor)
Siklus Penyakit
Daur penyakit ini belum banyak diketahui kecuali cendawan mempertahankan diri pada benih dan sisa tanaman sakit, dan mungkin juga di dalam tanah. Di udara konidia lebih banyak terdapat menjelang tengah hari, terutama pada waktu padi mulai masak
Pengendalian Penyakit
Belum ditemukan varietas padi yang tahan terhadap stuckburn. Penanaman benih sehat dapat mengurangi insiden penyakit. Perlakuan benih dengan air panas (54C selama 10 menit) atau dengan fungisida (mankozeb, ceresan) cukup efektif mengendalikan penyakit

PENYAKIT DAUN BERGORES BAKTERI
Daun bergores bakteri (bacterial leaf streak/BLS) pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1918. Penyakit telah tersebar luas di daerah tropis seperti Filipina, Malaysia, Cina selatan, Thailand, Vietnam, Kambidia tetapi tidak ditemukan di Jepang dan negara-negara subtropis lainnya. Di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Oka pada tahun 1972 di Jawa, saat ini penyakit telah tersebar di seluruh Indonesia, kecuali Maluku dan Irian Jaya
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZTPZcQf5cPe66QRB7QWgX-89Wpn-vnle_qSRESDQSJvM6pW_IgJVDGtuYjikkMPhOLvd7_U0RkujfoeOlzKVOpb3b2FJEpr4rc_KA36kMLAXt701M12o_MxrEHTrpZmBVWBPJb80jThmc/s1600/bercak+bergores.jpg
Gejala Penyakit
Penyakit dapat terjadi pada semua stadia pertumbuhan tanaman. Terdapat goresan/garis interveinal hijau kebasahan, lalu coklat terang. Pada gejala lanjut maka helai daun menjadi coklat hingga putih keabu-abuan lalu mati (mirip dengan kresek). Pada permukaan bercak keluar eksudat bakteri berwarna kuning
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Xanthomonas oryzae pv. oryzicola dan X. campestris pv. Oryzicola. Telah diproduksi antiserum yang dapat membedakan kedua spesies ini. Bakteri menghasilkan enzim pektinase dan selulase penghancur dinding sel tanaman
Siklus Penyakit
Bakteri bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman sakit dan dalam biji. Beberapa gulma (padi liar/genus Oryza) terinfeksi dapat menjadi sumber inokulum primer. Bakteri dapat menyebar dari petak ke petak karena terbawa air irigasi. Infeksi secara meluas terjadi pada waktu hujan berangin karena massa bakteri yang mengering terlarut dalam air hujan dan tersebar oleh angin. Selain itu angin dapat menyebabkan luka pada daun sebagai tempat infeksi



Faktor yang Mempengaruhi Penyakit
Penyakit lebih banyak terjadi pada daerah-daerah dengan curah hujan yang tinggi (Jabar, Jateng, Kalsel dan Sulsel. Suhu tinggi tampaknya membantu perkembangan penyakit (perkembangan BLS tertinggi terjadi Agustus-September). Kelembaban tinggi tidak mempengaruhi perkembangan gejala, tetapi membantu infeksi dan pemencaran patogen. Nitrogen hanya sedikit membantu perkembangan gejala. Pada umumnya ketahanan tanaman bertambah dengan bertambahnya umur
Pengendalian Penyakit
Tidak memerlukan usaha pengendalian yang khusus, kecuali penanaman jenis-jenis padi yang tahan. Jika penyakit selalu terjadi dianjurkan agar tidak memakai benih dari pertanaman yang sakit

PENYAKIT KERDIL KUNING
Kerdil kuning (yellow dwarf) dilaporkan terdapat hanya di Asia termasuk Indonesia
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuD-JOaZTCgID1Mm21mnDTdKDDRlHwmdZ5KgyFcMxm-rDfRuEIzs2Zh8IvIGHtce3tSBvKRemO5VskxnOb8TgwoEV5AVMwhCFMrCDuJRLr9IAEP-i_Zbl2tAr7o69N0F33xQG3fYtVyV8O/s1600/kerdil+kuning.jpg
Gejala Penyakit
Tanaman terinfeksi menjadi kerdil, anakan banyak, daun berwarna hijau pucat atau kuning pucat. Tanaman yang terinfeksi saat masih muda memperlihatkan gejala 40-50 hari kemudian, dan umumnya mati lebih cepat. Tanaman yang dapat bertahan hidup tidak menghasilkan malai
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Phytoplasma, penyebab kerdil kuning, terbatas pada jaringan phloem tanaman inang, selnya berbentuk tidak beraturan, berukuran 100-800 nm. Nephotettix cincticeps adalah vektor utama di daerah beriklim sedang sedangkan N. nigropictus dan N. virescens adalah vektor utama di daerah beriklim sedang.
Pengendalian Penyakit
Tidak ada cara pengendalian yang direkomendasikan karena penyakit tidak terlalu penting secara ekonomi

PENYAKIT KERDIL HAMPA
Kerdil hampa (ragged stunt) pertama kali ditemukan di Indonesia tahun1976, kemudian penyakit dilaporkan terdapat di negara Asia lainnya seperti Thailand, Malaysia, India, Sri Lanka, Cina, Jepang dan Filipina
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg96sTM3o-UdY0Uj3OQxBWAeKspZS2BkmamzxyNQ0hHQ1TUPcOvMnf3pgO1q-9AuKiVP7sDwFd4yTs67TFfDoIsW18WxZHJLuG3CYaVWgEzckK5Ed0vloy2AZ-bs7pCiGvtpCXycq5nuRFl/s1600/kerdil+hampa.jpg
Gejala Penyakit
Tanaman terinfeksi tampak kerdil, daun-daun menjadi pendek berwarna gelap, satu atau kedua sisinya sobek atau berlekuk-lekuk (ragged) serta daun bendera terpilin. Pada permukaan bawah daun atau pada seludang daun terdapat puru (gall) karena jaringan phloem mengalami hiperplasia. Malai umumnya tidak berisi atau hampa (maka disebut kedil hampa). Gejala ini muncul 2-3 minggu setelah infeksi
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Rice ragged stunt virus (RRSV yang) mempunyai partikel berbentuk bulat berdiameter 63-65 nm. Genomnya 10 macam RNA untai ganda, protein mantelnya terdiri dari lima jenis subunit protein
Siklus Penyakit
RRSV menginvasi inang terbatas pada jaringan phloem. Dapat ditularkan oleh Nilaparvata lugens dan N. Bakeri. Vektormempunyai makan akuisisi 8 jam, periode laten 8-15 hari, makan inokulasi minimal 1 jam, vektor infektif selama hidup, transtadial, tetapi tidak transovarial

Beberapa padi liar seperti Oryza nivara dan O. latifolia dilaporkan dapat diinfeksi RRSV. Karena wereng coklat monopaghous pada padi, maka infeksi alami pada gulma dapat dikatakan tidak terjadi. Dengan demikian virus hanya dapat bertahan pada tanaman padi dan vektornya
Pengendalian Penyakit
Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas padi tahan wereng coklat atau mengendalikan wereng dengan insektisida

PENYAKIT KERDIL RUMPUT
Kerdil rumput (grassy stunt) pertama kali dilaporkan di Filipina tahun1962, dan sekarang dilaporkan telah tersebar di seluruh negara penghasil beras di Asia
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy2zQG5EftbqGO2y_3yMC8PPLt8lhRYqPOkMtzvBL_n8zyWI-dAVphpUC-wa-XFR0NO8y3TJqcYlNYtArtwn8EmmjVEHKktIh2KWVv1pzt0rCCaarUnUten9nA6tYdVk85mOQuoOIVYFhf/s1600/kerdil+rumput.jpg
Gejala Penyakit
Gejala muncul 10-20 hari setelah infeksi. Tanaman terinfeksi menjadi kerdil, anakan lebih banyak dari normal, daun-daun lebih sempit, kaku dan tegak, sehingga rumpun tanaman nampak seperti rumput (kerdil rumput). Tanaman masih dapat membantuk malai tetapi jumlah biji sangat sedikit dan berukuran kecil
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan pleh Rice grassy stunt virus (RGSV) mempunyai partikel berupa benang lentur 6-8 x 950-1350 nm. Genomnya 4 jenis RNA untai tunggal, satu jenis coat protein (31 kDa)
Siklus Penyakit
RGSV ditularkan terutama oleh Nilaparvata lugens, dan dapat juga oleh N. bakeri dan N. Muiri. Vektor mempunyai makan akuisisi minimal 30 menit, periode laten 10-11 hari, makan inokulasi 5-15 menit, transtadial tetapi tidak transovarial.

Virus bertahan dari musim ke musim pada sisa tanaman padi yang masih hidup dan vektornya. Di daerah tropis, kejadian penyakit tinggi pada daerah yang terus-menerus ditanami padi. Migrasi serangga vektor sangat berperan untuk penyebaran virus
Pengendalian Penyakit
Pengendalian vektor dengan insektisida. Pola tanam melaui pergiliran tanaman dengan bukan padi. Penanaman varietas tahan terhadap wereng coklat. Sanitasi dengan mencabut dan membenamkan tanaman sakit

PENYAKIT HOJA BLANKA
Terdapat hanya di Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Karibia. Pertama kali dilaporkan tahun 1935 di Kolombia. Insiden penyakit tercatat selalu rendah, kecuali tahun 1981-1985 terjadi outbreak di Amerika Tengah
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6EADPvefh5cCgptilhv2pij_NvQbmJT8hgXewzOCpdTuyGhAoPsijw4zhGZ8_RomZxohdnsi2N3dXO23nbKaKM5__rzsHpxkk5SPXqcRvX3UJd2QvEEXVjUsMp817mCl099ShtoaUwVxC/s1600/hoja+blanka.jpg
Gejala Penyakit
Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil. Terdapat garis-garis klorotik/ kuning pada daun. Pada beberapa kasus helaian daun menjadi putih.
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan oleh Rice hoja blanca virus (RHBV) yang termasuk group Tenuivirus, partikelnya filamentous, dengan lebar 3-4 nm, genomnya RNA rantai tunggal, mempunyai satu jenis coat protein
Siklus Penyakit
Wereng Sogatodes orizicola adalah vektor utama RHBV. S. Cubanus dapat menularkan RHBV dari padi ke rumput-rumputan seperti Echinochloa, tetapi tidak dari padi ke padi atau dari rumput ke padi. Makan akuisisi vektor 15 menit-1 jam, periode laten 30-36 hari, makan inokulasi 30 menit-1 jam, sirkulatif, provagatif, dan transovarial.

Periode laten melebihi panjang hidup vektor jantan (14-24 hari) dan betina (30-44 hari). 5-15% dari populasi vektor di lapangan dapat menyebarkan RHBV. Insiden RHBV sangat tergantung dari jumlah nimfa vektor yang infektif. Mengingat periode laten yang sangat panjang, tanaman sakit tampaknya tidak menjadi sumber infeksi untuk tanaman dalam musim yang sama.



Nugroho P, SP
PPL Kec. Gondangrejo
WKPP Ds. Jatikuwung dan Ds. Kragan